Rabu, 28 April 2010

Dari Timur ke Barat Berjajar Keong Mas


Tak hanya di Pulau Sumatera dan Jawa yang dikenal sebagai lumbung padi nasional, keong mas (Pomacea canaliculata) atau keong murbei pun bermasalah di Manokwari, Papua. Meskipun hidup leluasa di rawa dan danau, keong mas identik dengan hama yang menyerang hamparan padi muda.

Serangan keong memang tak secepat dan sedramatis serangga. Namun, hasilnya sama: penurunan produksi padi yang di beberapa tempat hampir mencapai 20 persen.

Menurut para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), keong mas keluarga Pomacea masuk di Asia, termasuk Indonesia, pada pertengahan tahun 1980-an. Keong-keong itu didatangkan dari Amerika Selatan, yang juga dikenal sebagai negara pemasok fauna dan flora ke sejumlah negara tropis.

Awalnya, keong mas itu dikenalkan sebagai binatang piaraan karena menggemaskan dan sebagai pangan sumber protein.

Namun, tak lama kemudian, kabar buruk datang dari petani. Keong-keong berwarna keemasan menyerang hamparan padi di kawasan Jawa Barat. Pangkal batang menjadi target serangan mematikan.

Tak hanya di Indonesia, keong mas jenis Pomacea canaliculata (setidaknya sejauh ini dari jenis itu yang terdeteksi secara ilmiah) ternyata juga menginvasi sejumlah negara, seperti Filipina, Vietnam, Kamboja, Thailand, Myanmar, Taiwan, China, Jepang, negara-negara di kawasan Amerika Utara, dan Amerika Selatan. Hingga kini belum ada laporan yang menyebutkan pembasmian dapat dituntaskan.

Di Indonesia, penanganannya masih jauh dari tuntas. Tak sedikit petani yang mengatasinya secara manual: menangkap dan membuangnya atau menggunakan jebakan kayu berikut umpan. Kalau memakai musuh alami, umumnya dengan itik.

Pada situs web pustaka-deptan, Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Departemen Pertanian (Deptan) merekomendasikan, pelepasan itik sebagai pengendalian alami hama keong mas dapat dilakukan setiap pagi dan sore hari. Periode pelepasan adalah setelah padi ditanam hingga padi berumur 45 hari. Jumlah itik yang dilepaskan disarankan 25 ekor per hektar. Selain itu, dibarengi pemungutan keong mas secara berkala.

Di pasaran, ada juga obat kimia khusus hama keong (molluscicide), tetapi penggunaannya di kalangan petani masih terhambat harga. Harganya berkisar Rp 27.000 hingga Rp 50.000 per botol dengan penggunaan bisa sampai tiga botol per petak sawah—yang jelas hal ini menjadi ekstra ongkos produksi, menambah beban setelah kebutuhan mutlak, seperti pupuk dan pestisida.

”Tak banyak petani yang memakai. Setidaknya itu temuan kami di lapangan,” kata peneliti moluska Pusat Penelitian Biologi LIPI, Nova Mujiono, Jumat (21/8). Kunjungannya di sejumlah kabupaten di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, antara bulan Juli dan Agustus 2009 menunjukkan, petani memilih cara manual.

Pengakuan petani, ada yang menangkap lalu memasukkannya ke dalam karung. Lalu, diletakkan di tengah jalan raya dan tergilas roda-roda kendaraan. Ada pula yang mengumpulkan untuk dimasak. Umumnya, setelah membuang bagian kepala dan perutnya.

Pada buku penanganan hama keong mas di sejumlah negara yang beredar di kalangan peneliti moluska global, di antaranya dituliskan resep-resep masakan berbahan keong mas. Meskipun resep dari Indonesia tidak ada, sejumlah penduduk di daerah telah lama mengenalnya. Di Sumatera Barat, keong mas yang dikenal sebagai kalambuai biasa dimasak gulai atau digoreng.

Peta sebaran

Terhitung sejak Mei 2009, kelompok peneliti moluska meneliti status taksonomi keong Pomacea spp. dan keong telanjang (slug) sebagai hama. ”Keong-keong itu masuk kategori spesies invasif,” kata penanggung jawab penelitian, Ristiyanti M Marwoto. Sebanyak delapan orang terlibat penelitian yang akan selesai Oktober 2009 itu.

Hasilnya, di antaranya akan diberikan kepada Balai Karantina. Tujuannya, mengenal lebih baik keong sebagai satwa invasif.

Spesies invasif mengacu pada jenis-jenis fauna dan flora asing (dari luar negeri ataupun pulau lain) yang berkembang dan mengganggu keanekaragaman hayati endemik. Di Indonesia, jumlahnya ribuan jenis.

Salah satu target penelitian adalah keberadaan peta sebaran keong mas di Indonesia. Berpuluh tahun diserang keong, Indonesia belum memiliki peta sebaran terkini dan metode andal membasminya.

Selain itu, penelitian akan menghasilkan data dasar kebenaran identifikasi jenis-jenis invasif sehingga penanggulangannya dapat optimal. ”Meskipun bentuknya bervariasi di sejumlah daerah, keong mas banyak sebagai hama,” kata Ristiyanti.

Keong telanjang pun ditemukan turut merusak hasil kebun sayur, seperti kubis, selada air, wortel, labu siam, dan bawang daun. Meskipun mengakui keong sebagai hama, para pekebun sayur hanya bisa mengupas dan membuang bagian yang rusak.

Cara semacam itu tidak mengurangi populasi keong telanjang. Telur-telur yang amat kecil tetap terbawa bonggol sayur dan berpotensi berkembang di tempat lain. Melalui cara seperti itulah, keong mas dan keong telanjang dimungkinkan masuk ke Indonesia, selain melalui impor.

Temuan ”lymnea”

Salah satu temuan terbaru penelitian di lapangan, setidaknya sesuai dengan laporan para petani, adalah keong kecil (lymnea) di sawah-sawah. Selama ini para peneliti tidak menganggap lymnea sebagai hama.

”Faktanya, kami melihat sendiri keong-keong kecil itu memakan batang padi bersama keong mas. Cerita petani menguatkan itu,” kata Nova, yang memotret koloni keong mas dan keong lymnea di pangkal batang. Hasil pengambilan sampel keong mas pada 1 meter sawah, menemukan sekitar 40 keong mas dewasa dan anakan.

Keong-keong tersebut, umumnya memakan pangkal batang padi yang berumur kurang dari 30 hari. Serangan terhadap padi muda dapat menyebabkan kematian tanaman. Penelitian LIPI hanyalah bagian kecil dari upaya melindungi sumber pangan. Dibutuhkan kerja sama dengan Departemen Pertanian, Balai Karantina, dan pemerintah daerah. Petani telah berperang puluhan tahun, tanpa dukungan berarti.

Kamis, 22 April 2010

Indramayu Bakal Tenggelam Tidak Lama Lagi


Tanjung Indramayu telah tenggelam akibat abrasi yang tidak bisa dikendalikan, baik oleh masyarakat sekitar maupun Pemerintah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

"Pengikisan pantai terus terjadi setiap tahunnya dari peta tahun 2004 masih terlihat ada Tanjung Indramayu. Di tanjung tersebut terdapat dua daratan yaitu Pancar Payung dan Pancar Belah, tetapi pada tahun 2009 sudah tidak tampak, semua berubah jadi lautan," kata Kepala Pelabuhan Indramayu, Sukiman, di Indramayu.

"Tanjung Indramayu memiliki panjang sekitar 3.600 meter dan lebar 1.800 meter telah berubah menjadi lautan, peristiwa tersebut sangat mengkhawatirkan daratan yang masih ada, kalau pihak terkait tidak berupaya mempertahankannya maka semua bibir pantai akan hilang," katanya.

"Untuk lima tahun ke depan bisa terjadi lebih parah, maka dari masyarakat serta pemerintah harus segera melakukan pencegahan lebih awal, supaya daratan yang ada bisa dipertahankan," katanya.

"Saat ini masyarakat di kawasan pantai utara Indramayu belum menyadari serta tidak pernah peduli terhadap pantai dan lingkungan di sekitarnya, maka dalam hitungan waktu yang singkat telah terjadi kerusakan pantai," katanya.

"Solusi untuk mengantisipasinya antara lain, menanam pohon bakau, mangrove, juga menghindari pengerukan bibir pantai yang sering terjadi di kawasan pantai Indramayu, dalam permasalahan ini masyarakat dan pemerintah harus bersama-sama untuk mempertahankan daratan tersebut," katanya.

"Dalam mempertahankan daratan masyarakat harus peduli terhadap lingkungan juga harus bisa memeliharanya, apabila hal tersebut tidak diperhatikan maka Indramayu akan tenggelam dalam waktu yang tidak lama lagi," katanya.

"Tanjung sangat diperlukan untuk sebuah pelabuhan karena fungsi dan manfaatnya sangat banyak seperti bisa menahan apabila terjadi angin dari timur, lahan bongkar muat kapal juga sebagai penahan gelombang," katanya.

"Selain Tanjung Indramayu, masih banyak daratan yang akan mengalami hal serupa seperti bibir pantai di daerah Sukra yaitu Sumur Adem di mana lahan tersebut dijadikan proyek pembangkit listrik tenaga uap," katanya.

"Yang paling jelas terlihat yaitu kawasan wisata bahari Tirtamaya yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Kota Indramayu, pada tahun 1997 masih ada daratan untuk sarana pengunjung, tapi untuk saat ini daratan tersebut berubah menjadi lautan," katanya.

Rabu, 14 April 2010

Penyakit Koreng? Malu Dong

Tentu anda yang memiliki penyakit koreng atau yang ngetren di daerah saya di bilang kurap, akan sangat malu jika kurap kita itu di lihat oleh orang lain. Kalau yang melihat keluarga sendiri sih gak malu banget, coba bayangkan jika yang melihat itu wanita yang kita conta, ini sebagai contoh saja. Bisa anda bayangkan sendiri bagaimana malunya kita kepada wanita yang kita sayangi itu.

Dan tentu anda sudah mencoba berbagai macam obat untuk menyembuhkan atau menghilangkan penyakit koreng tersebut, namun tiada hasil yang Nampak. Dan anda juga sudah pergi ke dokter dan di kasi berbagai macam obat, namun sampai sekarang sama saja nihil? Nah jika semua cara modern sudah tidak mempan, kita gunakan OBAT TRADISIONAL untuk memecahkan masalah yang membikin kita malu ini. Terus apa dong OBAT HERBAL atau alami yang ampuh di gunakan? Simple aja, anda bisa menggunakan tanaman pinang untuk memberantas koreng yang membandel. Gak ada salahnya anda coba, toh gak ada efek sampingnya.

Selasa, 13 April 2010

El Nino Modoki Fenomena Baru

Fenomena El Nino atau menghangatnya suhu muka laut di Samudra Pasifik mulai menggejala akhir Mei lalu dan cenderung menguat pada bulan ini. Namun, melihat pola dan lokasi ”kolam panas”—areal permukaan laut yang menghangat—ada kecenderungan versi baru El Nino yang disebut El Nino Modoki.

Hal ini diungkapkan pakar cuaca dari Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (TISDA-BPPT), Fadli Syamsuddin, Jumat (21/8), melalui SMS. ”Ada kecenderungan anomali mengarah ke El Nino Modoki. Untuk memastikan, harus melihat kondisi terakhir,” ujarnya.

El Nino yang umumnya ditandai terjadinya anomali suhu muka laut di kawasan khatulistiwa di Samudra Pasifik disebut kolam panas. Hal ini mengakibatkan suplai uap air tinggi di kawasan Peru sehingga mengakibatkan banyak hujan di wilayah itu, sebaliknya kekeringan di wilayah Asia, terutama Indonesia.

Berbeda dengan El Nino, munculnya Modoki, bahasa Jepang, yang berarti ”serupa tapi berbeda”, ditunjukkan oleh adanya ”kolam panas” yang terkonsentrasi hanya di bagian tengah Samudra Pasifik. Bagian timur dan barat Pasifik tetap dingin.

Kondisi ini menyebabkan rendahnya suplai uap air atau terbentuknya awan hujan di Peru dan di timur Indonesia. Sejauh ini dari riset yang dilakukan peneliti Badan Riset Kelautan Jepang (Jamstec), wilayah Indonesia belum banyak diteliti. Fenomena ini juga baru dipublikasikan pada 2004 oleh peneliti Jamstec, tutur Fadli, yang meraih doktornya di Jepang.

Riset El Nino Modoki juga dilakukan peneliti dari Georgia Institute of Technology. ”Umumnya, El Nino menyebabkan menurunnya kejadian badai di Atlantik. Namun, tipe baru ini justru meningkatkan badai,” ujar Peter Webster, guru besar di Georgia Tech’s School of Earth and Atmospheric Sciences.

Menurut penelitian Webster yang muncul pada Jurnal Science edisi Juli lalu, El Nino Modoki lebih mudah diprediksi dibandingkan dengan El Nino. El Nino berubah menjadi Modoki oleh osilasi alami El Nino atau merupakan respons El Nino terhadap menghangatnya atmosfer atau karena La Nina mengubah struktur El Nino.

Jumat, 02 April 2010

Agustus, Indonesia Kering Lagi

Intensitas hujan sejumlah daerah di bagian barat Indonesia diperkirakan kembali menurun memasuki bulan Agustus. Penyebabnya, adalah aktivitas angin monsun timur, aktivitas El Nino, dan dipole mode positif.

"Penurunan curah hujan ini harus diwaspadai petani ketika bercocok tanam dan masyarakat lain terkait munculnya penyakit di musim kemarau. Daerah seperti Jawa dan Sumatera harus lebih mewaspadainya," kata Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaludin, Senin (28/7) di Bandung.

Thomas mengatakan ada tiga hal yang akan memengaruhi terjadi penurunan curah hujan. Saat itu, terjadi aktivitas angin monsun timuran (monsun Australia) yang akan bertiup cukup kuat mendorong awan ke arah utara. Monsun timuran ini memicu penurunan curah hujan.

Selain itu, aktivitas El Nino juga akan mulai terasa lebih kuat. Hal ini akan dilihat dari lebih hangatnya suhu permukaan air di Laut Pasifik Timur , sekitar dua derajat celcius, ketimbang di Laut Pasifik Barat.

Dipole mode juga dipekirakan positif sekitar 0,2 derajat celcius. Hal itu ditandai dengan menghangatnya suhu permukaan air laut di Perairan Afrika ketimbang perairan sekitar Indonesia.

Oleh karena itu, sektor pertanian dan kesehatan dikatakan harus berjaga-jaga terhadap kemungkinan ini. Minimnya curah hujan kemungkinan akan memengaruhi pola tanam, khususnya daerah perawasahan dan perkebunan.

Sektor kesehatan juga harus diwaspadai. Alasannya, memaskui musim kemarau, banyak penyakit mematikan yang akan muncul. Salah satunya, adalah demam berdarah.

Ditanya tentang banyaknya daerah yang diguyur hujan pada Bulan Juli, Thomas mengatakan , hal itu dipengaruhi adanya osilasi maden julian (fenomena pergerakan angin permukaan di daerah tropis) negatif, dipole mode negatif, dan suhu permukaan air laut di Indonesia bagian barat lebih hangat ketimbang Indonesia bagian timur. Semuanya, dikatakan sebagai penyebab masih terjadinya curah hujan di beberapa wilayah Indonesia, khususnya Jawa dan Sumatera.

"Namun, memasuki bulan Agustus akan berkurang meski di beberapa daerah di timur Indonesia, kemungkinan masih akan turun hujan meski tidak lebih dari 100-200 milimeter per bulan," katanya