Sabtu, 27 Februari 2010

Ditemukan Sumber Gempa yang Belum Terdeteksi Dalam Peta Zonasi

Dari hasil kajian Pusat Mitigasi Bencana Institut Teknologi Bandung secara mendalam terhadap sumber-sumber gempa, baik subduksi (pertemuan lempeng), maupun shallow crusal (patahan dangkal) ditemukan patahan-patahan baru yang belum terdeteksi secara spesifik dalam peta zonasi gempa pada SNI-03-1726-2002.

"Ditemukan sumber-sumber gempa di zona Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara," ungkap Kepala Pusat Mitigasi Bencana ITB I Wayan Sengara saat diskusi di Kantor BPPT Jakarta, Selasa (21/7).

I Wayan menjelaskan, sumber-sumber gempa subduksi Sumatera yang ditemukan yaitu di daerah Andaman, Aceh-Siemelue, Nias, Kepulauan Batu, Mentawai, Bengkulu, dan Sunda. Adapun untuk sumber gempa shallow crusal di wilayah Jawa dan Nusa Tenggara, yaitu patahan Lembang, patahan Cimandiri, Baribis, Opak, Doang, Sepanjang, Kangean, Flores, serta patahan-patahan lainnya di sekitar zona Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara.

"Tiga patahan daerah Jawa, yaitu Cimandiri, Lembang, Opak, Baribis diperkirakan 10 persen kemungkinan terjadi gempa dalam waktu 50 tahun ke depan dengan kekuatan gempa relatif medium," ucapnya.

Pusat Mitigasi Bencana ITB juga memberikan rekomendasi jangka pendek untuk penyempurnaan peta zonasi gempa, yaitu menyelesaikan dan menyempurnakan keseluruhan hasil analisis dari berbagai sumber gempa untuk wilayah Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara serta melakukan analisis sejenis untuk wilayah Indonesia Timur yang meliputi blok Irian dan blok Sulawesi-Kalimantan.

"Untuk jangka menengah, melakukan penelitian terhadap patahan-patahan yang dicurigai aktif," ujarnya.

Adapun jangka panjang, tambah I Wayan, memasang lebih banyak GPS monitoring pada patahan-patahan aktif sepanjang pulau di Indonesia untuk mendapatkan informasi data kecepatan pergerakan lempeng dan patahan.

"Langkah lain, mempercepat pelaksanaan pemasangan jaringan strong-motion accelerometer untuk menangkap getaran gempa kuat dari berbagai sumber gempa," ungkapnya.

Semua rekomendasi tersebut, kata dia, untuk masukan dalam perbaikan peta zonasi gempa yang masih mengacu pada peta SNI tahun 2002 agar seluruh infrastruktur yang akan dibangun dipersiapkan tahan gempa. "Kita berharap akhir tahun ini peta baru selesai dan diharapkan dilakukan penyempurnaan peta gempa secara berkala setiap 5 tahun sekali," tambah I Wayan.

Selasa, 09 Februari 2010

Bohong, Gempa Atau Tsunami akan Terjadi Besok

Jelang gerhana matahari total yang akan terjadi Rabu (22/7), kembali beredar email yang menyatakan akan terjadi gempa besar berkekuatan 6 skala Richter dan tsunami. Informasi dalam selebaran elektronik tersebut dibantah kebenarannya oleh Thomas Djamaluddin,Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

"Berita itu bohong, kemungkinan terjadinya gempa terkait dengan posisi bulan baru dan purnama kecil sekali," kata Thomas Djamaluddin ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (21/7). Ia mengatakan walaupun dari segi hipotesis, kemungkinan terjadinya gempa akibat posisi bulan baru dan purnama ada, tetapi sampai saat ini belum ada penelitian yang dapat membuktikan secara konklusif kalau ada keterkaitan di antara keduanya.

Thomas mengakui dari catatan selama ini, ada beberapa peristiwa gempa yang terjadi saat purnama, seperti tsunami di Aceh pada tahun 2004, di Padang Mentawai tahun 2005, dan di Yogyakarta pada tahun 2006. Namun menurutnya, tetap saja belum dapat diambil kesimpulan bahwa akan ada gempa atau tsunami saat gerhana matahari total Rabu (22/7) besok.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa gerhana mungkin hanya sebagai pemicu terjadinya gempa. Penyebab gempa terdapat di kulit bumi, karena gerhana matahari total menyebabkan pasang surut, maka ada kemungkinan pasang surut tersebut mempengaruhi kulit bumi. Sampai saat ini belum ada satu pun penelitian yang dapat meprediksi gempa seperti dipaparkan dalam email tersebut.

Sabtu, 06 Februari 2010

Lumpur Serang Beda dengan Lumpur Lapindo

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi memperkirakan semburan lumpur di Astana, Walikukun, Carenang, Serang, Banten, tidak akan sama seperti di Sidoarjo. Kandungan gas metan, lumpur, dan air diyakini tidak berbahaya dan sedikit jumlahnya.

Menurut Kepala Pusat Vulknologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Surono, di Bandung, Senin (22/6), tidak berbahayanya semburan lumpur di Carenang itu dibuktikan fakta keberadaan gunung api dan hasil riset tentang kandungan gas berbahaya di daerah sekitarnya. "Namun, kami tetap mengirimkan tim untuk mengamati kejadian ini lebih lanjut," kata Surono.

Berdasarkan data keberadaan gunung api, di sekitar tempat semburan lumpur, memang terdapat Gunung Karang yang memiliki tipe B. Artinya, gunung ini tidak memiliki catatan aktivitas vulkanik sejak tahun 1600.

Oleh karena itu, magma yang ada di dalam gunung kemudian mengalami pendinginan dan mengeluarkan gas. Akibat dorongan energi sangat kecil, maka gas terperangkap di dalam tanah membentuk lapisan seperti lensa. Bila lensa ini dibor dengan kekuatan tinggi, maka gas kemudian keluar bersama dengan lumpur dan air.

"Karena aktivitas gunung tidak aktif maka cadangan gas yang masih terperangkap pun tidak banyak. Kemungkinan besar semburan itu akan dalam waktu relatif tidak lama," katanya.

Tidak berbahayanya semburan gas itu diperkuat dengan analisis gas berbahaya yang dilakukan PVMBG tahun 2007 di tiga daerah sekitar Carenang. Tiga daerah itu adalah Cikeusal, Walantaka, dan Pontang yang berjarak tidak sampai 100 kilometer dari Carenang.

Surono mengatakan, Pemerintah Provinsi Banten sudah memiliki hasil analisis itu. Analisis tiga daerah itu menemukan kandungan gas, yaitu CO, CO2, H2S, SO2, dan CH4. Namun, jumlah kandungannya dianggap tidak membahayakan masyarakat sekitar.

"Seharusnya dengan analisis ini, Pemerintah Provinsi Banten bisa memetakan daerah mana yang berbahaya atau tidak. Selain itu, pemerintah bisa memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat tentang kejadian ini," kata Surono.

Selasa, 02 Februari 2010

Kobaran Api Muncul dari Dalam Tanah


Sebuah tim dari Dinas Pertambangan dan Energi tengah meneliti munculnya api dari dalam tanah di Kompleks Perumahan Damar Mas, Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Jabar.

"Kami sengaja menghubungi Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Bandung untuk melakukan penelitian di lokasi yang hasilnya akan langsung kami umumkan kepada masyarkat," kata Camat Banjaran, H Imam Irianto, di loaksi kejadian, Jumat (19/6). Menurut Imam, dari hasil penelitian awal, api yang ditimbulkan dari semburan gas itu tidak membahayakan keselamatan dan kesehatan masyarakat.

Kepala Sub Dinas Pertambangan Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Bandung Ir Kawaludin yang ikut meneliti di lokasi kejadian menegaskan, udara yang keluar tersebut merupakan gas metan (CH4). Gas tersebut, lanjut Kawaludin, merupakan hasil fermentasi atau pelapukan sampah organik yang prosesnya tertimbun tanah lempung, yang berada di lokasi perumahan itu.

"Saat tanah lempung tertembus mata bor, maka gas hasil pelapukan tersebut langsung ke luar," kata Kawaludin. Sifat dan ciri-ciri gas metan tidak berbau dan mudah terbakar, dan hembusan gas metan yang ke luar di sana hanya akan berlangsung beberapa hari saja, paling lama seminggu, katanya. Radius sebaran tumpukan sampah organik berada di kedalaman delapan meter, dan dapat dibuktikan dengan cara mengebor di sekitar lokasi kejadian.

Ia memaparkan, kejadian serupa pernah terjadi pula sebelumnya di Kabupaten Bandung, yakni di Kecamatan Rancaekek dan di Kecamatan Pameungpeuk, dengan modus yang sama yakni bermula dari pengeboran tanah untuk sumur. Dikatakan, sampah organik yang tertimbun bisa saja akibat pengurugan atau sampah organik purba karena pada zaman dulu Bandung merupakan danau raksasa yang kemudian airnya menyusut hingga seperti sekarang.

Warga kompleks Perumahan Damar Mas dan sekitarnya, hingga menjelang siang, masih terus berdatangan, ingin melihat langsung peristiwa yang jarang mereka saksikan itu. Gas keluar dari titik pengeboran sekitar pukul 13.00 WIB, Kamis, sesaat setelah mata bor, dalam pengeboran untuk membuat sumur jet pump, berhasil menembus kedalaman 26 meter.

Pengeboran di lokasi tersebut, menurut para pekerja, terbilang mengalami hambatan karena waktunya relatif lama untuk pekerjaan seperti itu. Pengerjaan pengeboran terhambat oleh adanya batu yang cukup keras untuk ditembus oleh mata bor, tak heran bila dalam waktu tiga hari, sejak Selasa (16/6) lalu, air baru bisa keluar.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan, polisi setempat memasang garis pengaman di sekitar lokasi.