Sabtu, 09 Januari 2010

Gunung Bawah Laut di Selatan Mentawai Belum Membahayakan

Sebuah gunung api ditemukan berada di bawah laut di selatan Kepulauan Mentawai. Sementara ini, gunung api yang terletak di barat Pulau Sumatera itu belum membahayakan. Para peneliti masih meriset tingkat keaktifan gunung api ini.

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Komda Sumatera Barat, Ade Edward, mengatakan, penelitian pakar geologi Indonesia, Amerika Serikat, dan Perancis itu menegaskan sejumlah isu yang selama ini mencuat mengenai keberadaan gunung api di bawah laut.

"Isu tentang gunung api di bawah laut sudah ada sejak lama. Hasil penelitian para ahli ini memberikan jawaban atas isu tersebut," ujar Ade di Padang, Sabtu (30/5).

Bahkan menurutnya, kemungkinan ada dua buah gunung laut. Keduanya masih berbentuk kerucut utuh sehingga dipastikan bahwa kedua gunung api itu belum pernah meletus. Hanya saja, hasil penelitian saat ini baru sebatas memastikan keberadaan gunung tersebut. Sementara, status gunung itu aktif atau tidak masih belum bisa dipastikan.

Gunung api yang masih aktif ditandai dengan material yang dikeluarkan dari gunung, seperti material padat, cair, atau lava. Bila tidak ada material yang dikeluarkan oleh gunung api, maka gunung itu merupakan gunung api yang mati. Pengeluaran material inilah yang masih diteliti oleh para ahli.

Hasil penelitian ini, menurut Ade, masih bersifat informasi. Karena belum bisa dipastikan keaktifan gunung api tersebut, maka para peneliti belum memberikan rekomendasi langkah tertentu ke badan penanggulangan bencana. Pemda yang wilayahnya berada di sekitar gunung api itu juga belum mendapatkan instruksi untuk mengambil langkah tertentu untuk menyikapi keberadaan gunung api di bawah laut.

Selatan Mentawai

Kedua gunung api itu berada di selatan Pulau Pagai Selatan. Pulau ini merupakan pulau paling selatan dari gugusan empat pulau besar di Mentawai.

Dari sisi ancaman, energi yang tersimpan pada gunung api ini tidak sebesar energi yang bisa membangkitkan gempa dan tsunami. Namun, sebagai bagian dari sistem tektonik lempeng, seluruh aspek yang ada di bawah laut ini perlu dipelajari.

Data tentang gunung api bawah laut ini perlu diperoleh karena gunung berada di daerah rawan tsunami, yakni di zona penghujaman lempeng Eurasia dan lempeng India-Australia. Selama ini masih berkembang prediksi ahli bahwa adanya energi besar yang tersimpan dari pertumbukan lempeng itu.

Sejauh ini, riset yang dilakukan para ahli belum final. Setidaknya, hasil riset memastikan kecurigaan sejumlah orang atas keberadaan gunung api di bawah laut.

Rabu, 06 Januari 2010

Temuan Gunung Raksasa Bawah Laut Pecahkan Rekor

Gunung raksasa yang ditemukan di perairan barat Sumatera mungkin memecahkan rekor sebagai gunung berapi terbesar di Indonesia. Demikian menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.

"Gunung Kerinci yang tingginya sekitar 3.800 meter dan Gunung Semeru sekitar 3.600 meter kalah dengan gunung yang baru ditemukan di perairan Bengkulu tersebut. Kalau gunung ini memang benar gunung api, maka gunung ini merupakan gunung api terbesar di Indonesia," kata Kepala PVMBG Badan Geologi, Bandung, Surono di Jakarta, Jumat (29/5).

Lokasi gunung tersebut berada di Palung Sunda di barat daya Sumatera, terletak kira-kira 330 km dari Bengkulu. Tingginya diperkirakan 4.600 meter dengan puncaknya ada di kedalaman 1.280 meter dari permukaan laut. Diameternya diperkirakan sekitar 50 km.

Ia memprediksi, gunung api yang ditemukan itu sebelumnya pernah beberapa kali meletus sehingga material-material letusannya membuat gunung itu semakin besar seperti sekarang ini. Menurut Surono, para peneliti harus meneliti lebih lanjut untuk mengetahui kepastian gunung merapi itu, seperti tingkat keaktifan magmanya, memiliki lubang pada bagian atasnya sebagai tempat untuk keluar letusan dan lainnya.

Bila gunung itu merupakan gunung berapi, lanjut Surono, akan sangat berbahaya bila meletus. Gunung api yang berada di tengah laut itu bisa menimbulkan gelombang besar di permukaan laut, bahkan tsunami. Oleh sebab itu, perlu ada perhatian serius dari pemerintah untuk mengantisipasi hal itu.

"Para peneliti juga harus melakukan pengawasan dan pemantauan mengenai kondisi gunung tersebut serta membuat peta rawan bencana di sekitar gunung itu sehingga dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," ujarnya.

Surono memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada para peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral CGG Veritas dan Institut de Physique Globe Paris yang menemukan gunung api raksasa tersebut.

Senin, 04 Januari 2010

Indonesia Punya 5 Gunung Api Bawah Laut


Gunung api di bawah laut hanya ada lima di Indonesia. Sementara ini aktivitas vulkaniknya tidak berbahaya.

Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono, hanya ada lima gunung api bawah laut di Indonesia. Di perairan Sulawesi Utara ada Gunung Sub Marine yang meletus tahun 1922 dan Banuawalu (1919). Selain itu, di perairan Banda ada Niuwewerker (1927) dan Emperor of China. Gunung api di bawah laut lainnya adalah Hobal (1999) di perairan Nusa Tenggara Timur.

"Aktivitas mereka sejauh ini tidak berbahaya. Bila sedang aktif biasanya hanya menimbulkan buih air berasap," katanya di Bandung, Sabtu (30/5).

Menanggapi klaim penemuan gunung api berukuran besar di bawah laut dekat perairan Mentawai, Surono mengatakan, kemungkinan itu bisa saja terjadi. Namun, ia menegaskan, gunung itu belum menjadi bagian dari 129 gunung api Indonesia.

Sabtu, 02 Januari 2010


Kemunculan gunung api termasuk gunung yang baru ditemukan di perairan barat Sumatera tidak mungkin secara tiba-tiba. Demikian dijelaskan Direktur Pusat Penelitian Geologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr Iskandar Zulkarnain, mengomentari penemuan gunung raksasa tersebut.

"Ada proses panjang yang membentuk gunung api muncul, tidak mungkin tiba-tiba," katanya, Jumat (29/5). Ia mencontohkan pembentukan kembali gunung api Krakatau di Selat Sunda yang membutuhkan waktu lebih dari 50 tahun setelah sempat meletus pada tahun 1883.

Iskandar mengatakan, pihaknya belum mendapat laporan resmi terkait temuan gabungan para pakar geologi Indonesia dan sejumlah negara asing tersebut. Namun, penemuan tersebut mengundang sejumlah pertanyaan.

Menurut dia, tanda-tanda keberadaan gunung api di perairan barat Sumatera seharusnya terdeteksi oleh satelit sebelumnya. "Seharusnya ada deteksi ya kan, tapi sejauh ini saya belum pernah mendapat informasi tentang keberadaan gunung api di perairan barat Sumatera khususnya di laut Bengkulu ini," katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Geologi Badan Klimatologi dan Geofisika Bengkulu Dadang Permana mengatakan, di titik lokasi keberadaan gunung api tersebut tidak pernah terdeteksi adanya aktivitas vulkanik. Pihaknya belum dapat memastikan temuan tersebut.

"Bagi kami, ini masih sebatas hipotesa dan BMKG perlu melakukan penelitian lagi karena tidak pernah terdeteksi getaran vulkanik di titik 330 km arah barat Kota Bengkulu," katanya.

Keberadaan gunung api raksasa ini dilaporkan sebagai hasil penelitian gabungan sejumlah lembaga, yaitu Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral CGG Veritas, serta Institut de Physique Globe) Paris. Gunung api tersebut diperkirakan berdiameter 50 km dan tinggi 4.600 meter dengan lokasi 330 km arah barat Kota Bengkulu.