Rabu, 15 Desember 2010

Cara untuk Menemukan Alien

Ini masih jadi misteri besar, apakah selain manusia, ada mahluk cerdas lain di jagad raya ini. Pencarian mahluk ekstraterresterial (ET) bahkan dimulai sejak 50 tahun lalu, ketika ilmuwan Universitas Cornell, Frank Drake mengarahkan teleskop radio ke arah bintang, mengharap bisa menangkap transmisi dari alien.

Tak hanya itu, menurut astrofisikawan, Stephen Hawking, pada 4 Februari 2008, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pernah mengirimkan pesan ke luar angkasa. Isinya, lagu "Across the Universe" milik The Beatles. Namun, tak pernah ada jawaban. Tak ada bukti sahih yang mendukung keberadaan manusia luar angkasa.

Namun, penemuan baru-baru ini membuat harapan menemukan ET kembali membuncah. Astronom, Univeristas Yale mengestimasi ada 300 sextillion bintang di angkasa, ini berarti tiga kali lipat dari perkiraan sebelumnya.

Sementara Lisa Kaltenegger dari Harvard University mengatakan, para ilmuwan yakin, separuh bintang di galaksi memiliki planet yang ukurannya dua sampai 10 kali ukuran Bumi. "Bumi super" atau "Super Earths" itu mungkin menopang kehidupan. Sementara peneliti lain menemukan mikroba yang hidup di arsenik.

"Bukti yang mengarah semakin kuat," kata Carl Pilcher, Direktur Institut Astrobiologi NASA. "Saya berpikir siapapun melihat bukti ini akan berkata, pasti ada kehidupan di luar sana."

Alih-alih menemukan kembaran manusia, ilmuwan saat ini masih dalam tahap mendekati ke penemuan tanda-tanda kehidupan yang mikroskopis. Meski harapan itu masih ada.

Berikut ini skrenario penemuan mahluk alien yang dilakukan para astronom:

1. Mars

Planet merah ini memiliki air di bawah tanah yang merupakan salah satu kunci kehidupan. Para ilmuwan menduga, kemungkinan besar ada mikroba yang hidup di bawah tanah, meski robot pencari yang menyisir Mars belum menemukan satu pun.

2. Europa

Satelit Planet Yupiter ini memiliki radiasi di permukaannya yang bisa membunuh nyawa mahluk hidup. Namun di bawah lautan beku di sana ada kemungkinan beberapa jenis mikroba hidup di sana, di bagian yang cair.

3. Enceladus (baca: en-sell-ah-dus)

Satelit mini Planet Saturnus ini memiliki bulu supersonik gas dan debu yang ditembakkan dari permukaannya. Ini adalah indikasi, enceladus memiliki zat cair yang berfungsi menopang kehidupan.

4. Titan

Bulan terbesar Planet Saturnus ini memiliki cairan seluas samudera. Namun, ada dugaan itu adalah cairan methan.

5. Planet ekstrasolar atau di luar tata surya

Para astronot menggunakan teleskop yang bisa mendeteksi keberadaan atmosfer di permukaan planet-planet tersebut. Dari sini bisa dicari tahu keberadaan proses fostosintesis atau proses biologis lainnya.

6. Di Bumi

Mencari alien di Bumi? Jangan salah, para ilmuwan juga menyisir Bumi untuk mencari keberadaan mahluk asing yang mungkin terbawa ke Bumi dari meteorit atau komet yang menyelonong masuk. Para ilmuwan menggali potensi temuan kehidupan asing di dasar laut atau di bawah es Antartika yang tak biasa dan bisa jadi berasal dari luar angkasa.


7. Dari sinyal radio

Usaha Frank Drake masih berlanjut. Sejumlah ilmuwan masih setia menyisir langit, mencari transmisi alien dari luar angkasa.

Sumber: surabayacybercity.blogspot.com

Rabu, 26 Mei 2010

Membeli Baju Online di busanamuslimgrosir.com

Hari ini benar benar hari yang sangat panas, rencanya saya akan keluar untuk membeli BAJU HAMIL untuk istri tersayang, namun karena cuaca yang begini panas, niat saya urungkan saja. Daripada saya tidak jadi membeli, lebih bagus kalau pesan online saja, itulah pikiran yang terlintas di benak saya.

Setelah komputer hidup dan koneksi berjalan lancar, saya langsung browing internet dengan kata kunci “ GROSIR BUSANA MUSLIM”. Dan saya menemukan website busanamuslimgrosir.com dalam hasil pencarian. Tanpa buang waktu saya buka dan saya lihat semua koleksi yang dimiliki oleh toko online tersebut. Ternyata bagus dan banyak juga koleksi yang dimiliki oleh toko ini. Saya memilih dengan hati-hari, saya baca semua detail dari baju yang akan saya beli dengan sangat hati-hati.

Sabtu, 22 Mei 2010

Berbagi Tips dan Triks Gratis

Dapatkan Tips dan triks Gratis untuk menghasilkan Uang Dari Blog. Di
www.uangdariblog.com anda akan menemukan banyak sekali tips yang akan
membatu anda mendapatkan penghasilan pertama dari blog. Semua tips dan
trik itu bisa anda dapatkan dengan gratis tanpa mengeluarkan uang
sepeserpun. Selain dari Di www.uangdariblog.com, anda juga bisa
mendapatkan berbagai trik di www.ayoberbagi.com.

Rabu, 28 April 2010

Dari Timur ke Barat Berjajar Keong Mas


Tak hanya di Pulau Sumatera dan Jawa yang dikenal sebagai lumbung padi nasional, keong mas (Pomacea canaliculata) atau keong murbei pun bermasalah di Manokwari, Papua. Meskipun hidup leluasa di rawa dan danau, keong mas identik dengan hama yang menyerang hamparan padi muda.

Serangan keong memang tak secepat dan sedramatis serangga. Namun, hasilnya sama: penurunan produksi padi yang di beberapa tempat hampir mencapai 20 persen.

Menurut para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), keong mas keluarga Pomacea masuk di Asia, termasuk Indonesia, pada pertengahan tahun 1980-an. Keong-keong itu didatangkan dari Amerika Selatan, yang juga dikenal sebagai negara pemasok fauna dan flora ke sejumlah negara tropis.

Awalnya, keong mas itu dikenalkan sebagai binatang piaraan karena menggemaskan dan sebagai pangan sumber protein.

Namun, tak lama kemudian, kabar buruk datang dari petani. Keong-keong berwarna keemasan menyerang hamparan padi di kawasan Jawa Barat. Pangkal batang menjadi target serangan mematikan.

Tak hanya di Indonesia, keong mas jenis Pomacea canaliculata (setidaknya sejauh ini dari jenis itu yang terdeteksi secara ilmiah) ternyata juga menginvasi sejumlah negara, seperti Filipina, Vietnam, Kamboja, Thailand, Myanmar, Taiwan, China, Jepang, negara-negara di kawasan Amerika Utara, dan Amerika Selatan. Hingga kini belum ada laporan yang menyebutkan pembasmian dapat dituntaskan.

Di Indonesia, penanganannya masih jauh dari tuntas. Tak sedikit petani yang mengatasinya secara manual: menangkap dan membuangnya atau menggunakan jebakan kayu berikut umpan. Kalau memakai musuh alami, umumnya dengan itik.

Pada situs web pustaka-deptan, Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Departemen Pertanian (Deptan) merekomendasikan, pelepasan itik sebagai pengendalian alami hama keong mas dapat dilakukan setiap pagi dan sore hari. Periode pelepasan adalah setelah padi ditanam hingga padi berumur 45 hari. Jumlah itik yang dilepaskan disarankan 25 ekor per hektar. Selain itu, dibarengi pemungutan keong mas secara berkala.

Di pasaran, ada juga obat kimia khusus hama keong (molluscicide), tetapi penggunaannya di kalangan petani masih terhambat harga. Harganya berkisar Rp 27.000 hingga Rp 50.000 per botol dengan penggunaan bisa sampai tiga botol per petak sawah—yang jelas hal ini menjadi ekstra ongkos produksi, menambah beban setelah kebutuhan mutlak, seperti pupuk dan pestisida.

”Tak banyak petani yang memakai. Setidaknya itu temuan kami di lapangan,” kata peneliti moluska Pusat Penelitian Biologi LIPI, Nova Mujiono, Jumat (21/8). Kunjungannya di sejumlah kabupaten di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, antara bulan Juli dan Agustus 2009 menunjukkan, petani memilih cara manual.

Pengakuan petani, ada yang menangkap lalu memasukkannya ke dalam karung. Lalu, diletakkan di tengah jalan raya dan tergilas roda-roda kendaraan. Ada pula yang mengumpulkan untuk dimasak. Umumnya, setelah membuang bagian kepala dan perutnya.

Pada buku penanganan hama keong mas di sejumlah negara yang beredar di kalangan peneliti moluska global, di antaranya dituliskan resep-resep masakan berbahan keong mas. Meskipun resep dari Indonesia tidak ada, sejumlah penduduk di daerah telah lama mengenalnya. Di Sumatera Barat, keong mas yang dikenal sebagai kalambuai biasa dimasak gulai atau digoreng.

Peta sebaran

Terhitung sejak Mei 2009, kelompok peneliti moluska meneliti status taksonomi keong Pomacea spp. dan keong telanjang (slug) sebagai hama. ”Keong-keong itu masuk kategori spesies invasif,” kata penanggung jawab penelitian, Ristiyanti M Marwoto. Sebanyak delapan orang terlibat penelitian yang akan selesai Oktober 2009 itu.

Hasilnya, di antaranya akan diberikan kepada Balai Karantina. Tujuannya, mengenal lebih baik keong sebagai satwa invasif.

Spesies invasif mengacu pada jenis-jenis fauna dan flora asing (dari luar negeri ataupun pulau lain) yang berkembang dan mengganggu keanekaragaman hayati endemik. Di Indonesia, jumlahnya ribuan jenis.

Salah satu target penelitian adalah keberadaan peta sebaran keong mas di Indonesia. Berpuluh tahun diserang keong, Indonesia belum memiliki peta sebaran terkini dan metode andal membasminya.

Selain itu, penelitian akan menghasilkan data dasar kebenaran identifikasi jenis-jenis invasif sehingga penanggulangannya dapat optimal. ”Meskipun bentuknya bervariasi di sejumlah daerah, keong mas banyak sebagai hama,” kata Ristiyanti.

Keong telanjang pun ditemukan turut merusak hasil kebun sayur, seperti kubis, selada air, wortel, labu siam, dan bawang daun. Meskipun mengakui keong sebagai hama, para pekebun sayur hanya bisa mengupas dan membuang bagian yang rusak.

Cara semacam itu tidak mengurangi populasi keong telanjang. Telur-telur yang amat kecil tetap terbawa bonggol sayur dan berpotensi berkembang di tempat lain. Melalui cara seperti itulah, keong mas dan keong telanjang dimungkinkan masuk ke Indonesia, selain melalui impor.

Temuan ”lymnea”

Salah satu temuan terbaru penelitian di lapangan, setidaknya sesuai dengan laporan para petani, adalah keong kecil (lymnea) di sawah-sawah. Selama ini para peneliti tidak menganggap lymnea sebagai hama.

”Faktanya, kami melihat sendiri keong-keong kecil itu memakan batang padi bersama keong mas. Cerita petani menguatkan itu,” kata Nova, yang memotret koloni keong mas dan keong lymnea di pangkal batang. Hasil pengambilan sampel keong mas pada 1 meter sawah, menemukan sekitar 40 keong mas dewasa dan anakan.

Keong-keong tersebut, umumnya memakan pangkal batang padi yang berumur kurang dari 30 hari. Serangan terhadap padi muda dapat menyebabkan kematian tanaman. Penelitian LIPI hanyalah bagian kecil dari upaya melindungi sumber pangan. Dibutuhkan kerja sama dengan Departemen Pertanian, Balai Karantina, dan pemerintah daerah. Petani telah berperang puluhan tahun, tanpa dukungan berarti.

Kamis, 22 April 2010

Indramayu Bakal Tenggelam Tidak Lama Lagi


Tanjung Indramayu telah tenggelam akibat abrasi yang tidak bisa dikendalikan, baik oleh masyarakat sekitar maupun Pemerintah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

"Pengikisan pantai terus terjadi setiap tahunnya dari peta tahun 2004 masih terlihat ada Tanjung Indramayu. Di tanjung tersebut terdapat dua daratan yaitu Pancar Payung dan Pancar Belah, tetapi pada tahun 2009 sudah tidak tampak, semua berubah jadi lautan," kata Kepala Pelabuhan Indramayu, Sukiman, di Indramayu.

"Tanjung Indramayu memiliki panjang sekitar 3.600 meter dan lebar 1.800 meter telah berubah menjadi lautan, peristiwa tersebut sangat mengkhawatirkan daratan yang masih ada, kalau pihak terkait tidak berupaya mempertahankannya maka semua bibir pantai akan hilang," katanya.

"Untuk lima tahun ke depan bisa terjadi lebih parah, maka dari masyarakat serta pemerintah harus segera melakukan pencegahan lebih awal, supaya daratan yang ada bisa dipertahankan," katanya.

"Saat ini masyarakat di kawasan pantai utara Indramayu belum menyadari serta tidak pernah peduli terhadap pantai dan lingkungan di sekitarnya, maka dalam hitungan waktu yang singkat telah terjadi kerusakan pantai," katanya.

"Solusi untuk mengantisipasinya antara lain, menanam pohon bakau, mangrove, juga menghindari pengerukan bibir pantai yang sering terjadi di kawasan pantai Indramayu, dalam permasalahan ini masyarakat dan pemerintah harus bersama-sama untuk mempertahankan daratan tersebut," katanya.

"Dalam mempertahankan daratan masyarakat harus peduli terhadap lingkungan juga harus bisa memeliharanya, apabila hal tersebut tidak diperhatikan maka Indramayu akan tenggelam dalam waktu yang tidak lama lagi," katanya.

"Tanjung sangat diperlukan untuk sebuah pelabuhan karena fungsi dan manfaatnya sangat banyak seperti bisa menahan apabila terjadi angin dari timur, lahan bongkar muat kapal juga sebagai penahan gelombang," katanya.

"Selain Tanjung Indramayu, masih banyak daratan yang akan mengalami hal serupa seperti bibir pantai di daerah Sukra yaitu Sumur Adem di mana lahan tersebut dijadikan proyek pembangkit listrik tenaga uap," katanya.

"Yang paling jelas terlihat yaitu kawasan wisata bahari Tirtamaya yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Kota Indramayu, pada tahun 1997 masih ada daratan untuk sarana pengunjung, tapi untuk saat ini daratan tersebut berubah menjadi lautan," katanya.

Rabu, 14 April 2010

Penyakit Koreng? Malu Dong

Tentu anda yang memiliki penyakit koreng atau yang ngetren di daerah saya di bilang kurap, akan sangat malu jika kurap kita itu di lihat oleh orang lain. Kalau yang melihat keluarga sendiri sih gak malu banget, coba bayangkan jika yang melihat itu wanita yang kita conta, ini sebagai contoh saja. Bisa anda bayangkan sendiri bagaimana malunya kita kepada wanita yang kita sayangi itu.

Dan tentu anda sudah mencoba berbagai macam obat untuk menyembuhkan atau menghilangkan penyakit koreng tersebut, namun tiada hasil yang Nampak. Dan anda juga sudah pergi ke dokter dan di kasi berbagai macam obat, namun sampai sekarang sama saja nihil? Nah jika semua cara modern sudah tidak mempan, kita gunakan OBAT TRADISIONAL untuk memecahkan masalah yang membikin kita malu ini. Terus apa dong OBAT HERBAL atau alami yang ampuh di gunakan? Simple aja, anda bisa menggunakan tanaman pinang untuk memberantas koreng yang membandel. Gak ada salahnya anda coba, toh gak ada efek sampingnya.

Selasa, 13 April 2010

El Nino Modoki Fenomena Baru

Fenomena El Nino atau menghangatnya suhu muka laut di Samudra Pasifik mulai menggejala akhir Mei lalu dan cenderung menguat pada bulan ini. Namun, melihat pola dan lokasi ”kolam panas”—areal permukaan laut yang menghangat—ada kecenderungan versi baru El Nino yang disebut El Nino Modoki.

Hal ini diungkapkan pakar cuaca dari Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (TISDA-BPPT), Fadli Syamsuddin, Jumat (21/8), melalui SMS. ”Ada kecenderungan anomali mengarah ke El Nino Modoki. Untuk memastikan, harus melihat kondisi terakhir,” ujarnya.

El Nino yang umumnya ditandai terjadinya anomali suhu muka laut di kawasan khatulistiwa di Samudra Pasifik disebut kolam panas. Hal ini mengakibatkan suplai uap air tinggi di kawasan Peru sehingga mengakibatkan banyak hujan di wilayah itu, sebaliknya kekeringan di wilayah Asia, terutama Indonesia.

Berbeda dengan El Nino, munculnya Modoki, bahasa Jepang, yang berarti ”serupa tapi berbeda”, ditunjukkan oleh adanya ”kolam panas” yang terkonsentrasi hanya di bagian tengah Samudra Pasifik. Bagian timur dan barat Pasifik tetap dingin.

Kondisi ini menyebabkan rendahnya suplai uap air atau terbentuknya awan hujan di Peru dan di timur Indonesia. Sejauh ini dari riset yang dilakukan peneliti Badan Riset Kelautan Jepang (Jamstec), wilayah Indonesia belum banyak diteliti. Fenomena ini juga baru dipublikasikan pada 2004 oleh peneliti Jamstec, tutur Fadli, yang meraih doktornya di Jepang.

Riset El Nino Modoki juga dilakukan peneliti dari Georgia Institute of Technology. ”Umumnya, El Nino menyebabkan menurunnya kejadian badai di Atlantik. Namun, tipe baru ini justru meningkatkan badai,” ujar Peter Webster, guru besar di Georgia Tech’s School of Earth and Atmospheric Sciences.

Menurut penelitian Webster yang muncul pada Jurnal Science edisi Juli lalu, El Nino Modoki lebih mudah diprediksi dibandingkan dengan El Nino. El Nino berubah menjadi Modoki oleh osilasi alami El Nino atau merupakan respons El Nino terhadap menghangatnya atmosfer atau karena La Nina mengubah struktur El Nino.

Jumat, 02 April 2010

Agustus, Indonesia Kering Lagi

Intensitas hujan sejumlah daerah di bagian barat Indonesia diperkirakan kembali menurun memasuki bulan Agustus. Penyebabnya, adalah aktivitas angin monsun timur, aktivitas El Nino, dan dipole mode positif.

"Penurunan curah hujan ini harus diwaspadai petani ketika bercocok tanam dan masyarakat lain terkait munculnya penyakit di musim kemarau. Daerah seperti Jawa dan Sumatera harus lebih mewaspadainya," kata Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaludin, Senin (28/7) di Bandung.

Thomas mengatakan ada tiga hal yang akan memengaruhi terjadi penurunan curah hujan. Saat itu, terjadi aktivitas angin monsun timuran (monsun Australia) yang akan bertiup cukup kuat mendorong awan ke arah utara. Monsun timuran ini memicu penurunan curah hujan.

Selain itu, aktivitas El Nino juga akan mulai terasa lebih kuat. Hal ini akan dilihat dari lebih hangatnya suhu permukaan air di Laut Pasifik Timur , sekitar dua derajat celcius, ketimbang di Laut Pasifik Barat.

Dipole mode juga dipekirakan positif sekitar 0,2 derajat celcius. Hal itu ditandai dengan menghangatnya suhu permukaan air laut di Perairan Afrika ketimbang perairan sekitar Indonesia.

Oleh karena itu, sektor pertanian dan kesehatan dikatakan harus berjaga-jaga terhadap kemungkinan ini. Minimnya curah hujan kemungkinan akan memengaruhi pola tanam, khususnya daerah perawasahan dan perkebunan.

Sektor kesehatan juga harus diwaspadai. Alasannya, memaskui musim kemarau, banyak penyakit mematikan yang akan muncul. Salah satunya, adalah demam berdarah.

Ditanya tentang banyaknya daerah yang diguyur hujan pada Bulan Juli, Thomas mengatakan , hal itu dipengaruhi adanya osilasi maden julian (fenomena pergerakan angin permukaan di daerah tropis) negatif, dipole mode negatif, dan suhu permukaan air laut di Indonesia bagian barat lebih hangat ketimbang Indonesia bagian timur. Semuanya, dikatakan sebagai penyebab masih terjadinya curah hujan di beberapa wilayah Indonesia, khususnya Jawa dan Sumatera.

"Namun, memasuki bulan Agustus akan berkurang meski di beberapa daerah di timur Indonesia, kemungkinan masih akan turun hujan meski tidak lebih dari 100-200 milimeter per bulan," katanya

Minggu, 28 Maret 2010

Bayi Mengerti Perasaan Anjing


Penelitian terbaru menemukan bahwa bayi usia 6 bulan dapat mengasosiasikan geraman marah atau salakan riang seekor anjing dengan gambar anjing yang dihadapkannya. dari temuan itu, dapat disimpulkan bahwa bayi dapat menerjemahkan emosi bahkan sebelum ia belajar berbicara.

"Emosi ialah salah satu hal pertama yang diserap bayi dari lingkungan sosial," jelas Ross Flom yang merupakan kepala peneliti. Beliau ialah profesor psikologi dari Brigham Young University, Utah.

Penelitian dilakukan terhadap 128 bayi, masing-masing 32 dari empat kelompok umur (6, 12, 18, dan 24 bulan). Hasilnya, bayi dapat membedakan mana gonggongan anjing yang kasar dan tidak ramah, mana gonggongan yang bersahabat. Tak terkecuali bayi yang usianya baru 6 bulan maupun bayi berusia hingga 2 tahun.

Namun, perbedaan besar terletak pada reaksi. Artinya, bayi yang lebih besar memiliki respon berbeda dari bayi 6 bulan. Bayi 6 bulan akan fokus pada gambar itu, menunjukkan ekspresi wajah galak, dengki saat menemukan gambar. Sementara bayi berumur 1-2 tahun, walau mereka pun dapat memahami emosi anjing di gambar dengan tepat, cenderung lebih acuh.

Dalam riset sebelumnya tentang kecerdasan bayi, disebutkan pula bahwa bayi memperlihatkan tanda-tanda kemampuan membaca ekspresi wajah dan lagu kalimat (intonasi) pada pembicaraan. Hal ini dipengaruhi oleh frekuensi waktu ketika ia mengamati dan merekam sesuatu.

Senin, 22 Maret 2010

Fenomena Alam Gerhana Matahari Terlihat Sebagian di Medan


Gerhana matahari yang terjadi pada Rabu (22/7) terlihat sebagian di Kota Medan dan sekitarnya. Hal ini disebabkan posisi terhalangnya matahari oleh bulan tidak persis di kawasan Medan dan sekitarnya.

Di Tanah Air, gerhana matahari hanya terlihat di wilayah yang berada di atas garis khatulistiwa. "Semakin ke barat wilayah Indonesia akan semakin jelas terlihat. Posisi ideal pengamatan gerhana kali ini ada di wilayah Nepal, India, dan sebagian China. Di Medan dan sekitarnya posisi gerhana terlihat di kuadran ketiga jika kita bagi bayang gerhana itu dalam sebuah lingkaran. Posisinya terlihat di bagian kiri bawah bayang-bayang bulan yang menghalani sinar matahari," tutur Kepala Stasiun Geofisika Tuntungan, Deli Serdang, Rifwar Kamin, Rabu saat dihubungi dari Medan.

Tim Stasiun Geofisika Tuntungan dan sejumlah mahasiswa melakukan pengamatan gerhana bersama. Mereka mengamati gerhana dengan memakai bantuan theodolite (alat untuk melihat benda jarak jauh). Pada fase awal gerhana ini tidak terlihat sama sekali.

Namun, menjelang fase puncak, yaitu tertutupnya cahaya matahari oleh bulan, tim pengamat dan mahasiswa berhasil melihat mulai pukul 06.58 sampai pukul 07.51. Rifwar mengatakan, fenomena gerhana ini merupakan fenomena alam tahunan.

Gerhana matahari terlihat sempurna di tempat yang sama akan terjadi pada periode 100 tahunan. Masyarakat Kota Medan dan sekitarnya tidak banyak yang tahu bahwa hari ini terjadi gerhana. Aktivitas berjalan seperti biasa dan di sejumlah wilayah tertutup kabut asap yang belakangan terus menggelayut di langit.

Rabu, 17 Maret 2010

Boneka Muslim Lucu

Apakah anda sedang mengajarkan anak anda tentang agama Islam? Jika jawaban anda adalah ya, maka menggunakan boneka adalah cara yang sangat tepat kalau menurut saya. Boneka merupakan mainan yang tidak bisa di pisahkan dari anak perempuan. Dia biasanya suka memandikan, menggantikan baju boneka kesayangannya.

Anda bisa membangun ketertarikan si kecil untuk menggunakan BAJU MUSLIM dalam kehidupan sehari-hari dengan memanfaatkan boneka muslim yang kini telah tersedia banyak di toko mainan. Anda bisa mengenalkan BUSANA MUSLIM kepada anak anda tanpa anda sadari, dan dia secara tidak langsung pasti akan timbul ketertarikan untuk memakai baju yang sama dengan yang dipakai bonekanya. Tentu saja anda harus memakai busana muslim terlebih dahulu, sehingga ketertarikan si kecil untuk memakai pakaian yang sama dengan anda akan menjadi lebih besar. Silahkan anda terapkan cara ini, dan di pastikan si kecil akan merengek-rengek memakai baju muslim, sesuai dengan yang di kenakan oleh ibunya dan boneka kesayangannya.

Minggu, 14 Maret 2010

Awan Hambat Pengamatan Gerhana di India


Daerah pertama yang dapat mengamati fenomena gerhana matahari total adalah daerah di India. Kegelapan langsung menyelimuti wilayah di sana dan berlangsung hanya beberapa saat setelah matahari terbit.

Peneliti, pelajar, dan pencinta lingkungan berkumpul di sebuah padang luas di India untuk melihat gerhana matahari total terlama pada abad ke-21 ini. Meskipun begitu, awan tebal dan hujan mengagalkan rencana untuk melihat fenomena gerhana tersebut dengan tuntas.

Gerhana mulai berlangsung pukul 5.30 waktu setempat atau sekitar 07.00 dan pertama kali tampak di Kota Gauhati. Gerhana yang hanya bisa dilihat di wilayah Asia tersebut mencapai puncaknya pada pukul 06.20 waktu setempat.

Daerah yang paling lama mengalami fenomena gerhana matahari total di India adalah Taregna, yakni 3 menit 48 detik. Sayang, selama gerhana berlangsung, awan tebal menutupi pandangan.

Semakin siang, fenomena ini akan dapat diamati di bagian timur dan utara Asia, seperti Nepal, Myanmar, Bangladesh, Bhutan, sebagian Jepang, dan China hingga berakhir di Samudra Pasifik.

Kota-kota di China menjadi daerah yang paling beruntung dapat menyaksikan gerhana matahari total selama 6 menit 39 detik. Ini merupakan gerhana matahari total terlama sepanjang abad ke-21 ini. Gerhana dengan durasi yang sama pada hari ini baru akan berlangsung lagi pada 2132.

"Kegembiraan dan keunikan dari gerhana matahari total telah menarik kami untuk mengunjungi tempat ini. NASA sudah menyatakan bahwa tempat ini akan menjadi tempat terbaik untuk melihat gerhana matahari total," ujar Michel Vancaster, seorang astronom amatir yang datang dari Belgia untuk menyaksikan gerhana matahari total.

Selain dimanfaatkan untuk pengamatan, fenomena gerhana matahari total ini ternyata juga dimanfaatkan sebagai kesempatan bisnis. Sebuah agen perjalanan di India mempersiapkan sebuah penerbangan untuk menikmati gerhana dari udara dan memberikan harga tinggi pada kursi yang menghadap matahari.

Sabtu, 06 Maret 2010

15 Danau Mengalami Sedimentasi Parah

Dua danau di Pulau Sulawesi direkomendasikan dikeruk akibat sedimentasi berat. Keduanya adalah Danau Limboto di Provinsi Gorontalo dan Danau Tempe di Provinsi Sulawesi Selatan.

Keduanya masuk Program Pengelolaan Danau Prioritas Tahun 2010-2014 yang total berjumlah 15 danau. Sebanyak 15 danau lainnya masuk prioritas program rehabilitasi tahun 2015-2019.

Selain dua danau dikeruk, juga dilakukan peningkatan kualitas air, peningkatan komitmen pemerintah, pemulihan kawasan terpadu, pengawasan pemanfaatan multifungsi danau, peningkatan pariwisata, dan program perubahan iklim.

”Kami butuh kerja sama departemen lain dan pemerintah daerah untuk memenuhi target itu,” kata Deputi III Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Masnellyarti Hilman kepada wartawan di Jakarta, Selasa (21/7).

Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH) memprakarsai Konferensi Nasional Danau Indonesia: Pengelolaan Danau dan Antisipasi Perubahan Iklim di Bali, 13-15 Agustus 2009. Diperkirakan ada 700 peserta dari sembilan departemen dan kementerian serta pemerintah daerah.

Data KNLH menunjukkan, dari 22 sungai yang mengalir ke Danau Limboto, hanya dua sungai masih mengalir ketika musim kemarau. Kondisi hampir sama terjadi di Danau Tempe.

Selama 1972-2002 laju penyusutan luas Danau Limboto 50 hektar per tahun dan laju sedimentasi 1,5-50 sentimeter (cm) per tahun. Tanpa rehabilitasi kerusakan lahan dan pengendalian limbah domestik, tahun 2034 danau itu akan menjadi legenda.

Sementara itu, laju sedimentasi di Danau Tempe mencapai 1-3 cm per tahun. Tanpa intervensi rehabilitasi, Danau Tempe diperkirakan hilang setiap musim kering pada tahun 2018.

”Banyak lahan kritis, hutannya juga sedikit,” kata Asisten Deputi III Urusan Pengendalian Kerusakan Sungai dan Danau Antung D Radiansyah.

Menambah ironis

Masifnya kerusakan danau-danau di Indonesia menambah deret ironi kekayaan alam Tanah Air setelah pembabatan hutan dan eksploitasi sumber daya alam besar-besaran.

Dari data KNLH, ada 840 danau besar dan 735 danau kecil di Indonesia. Danau-danau itu menyediakan 72 persen suplai air permukaan di Indonesia.

Danau-danau juga dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik, wisata, irigasi, dan budidaya perikanan. Namun, daya dukungnya terus menyusut drastis akibat pola pembangunan dan pengelolaan yang mengabaikan fungsi penting dan daya tampungnya.

Salah satu contoh pengabaian perhitungan daya tampung danau adalah kematian massal ikan di Danau Maninjau, Sumatera Barat, pada akhir tahun 2008 lalu hingga mencapai 13.413 ton atau setara dengan Rp 150 miliar.

Kejadian serupa pernah terjadi di tempat lain dalam skala berbeda-beda. Namun, terus berulang dan merugikan para pembudidaya ikan.

”Waktunya mengubah pola pikir tentang pengelolaan dan peran danau dalam pembangunan,” kata Masnellyarti.

Sebagai langkah perubahan, setidaknya membutuhkan komitmen sembilan departemen dan kementerian untuk kesepakatan pengelolaan danau berkelanjutan. Sejumlah target sudah dibuat dan rencana pengelolaan berkelanjutan disusun untuk dibahas pada pertemuan di Bali pada Agustus 2009 mendatang.

Untuk mendanai program tersebut butuh dana besar. Untuk itu, KNLH akan mengajak semua departemen dan kementerian yang terlibat pengelolaan untuk turun tangan.

Sabtu, 27 Februari 2010

Ditemukan Sumber Gempa yang Belum Terdeteksi Dalam Peta Zonasi

Dari hasil kajian Pusat Mitigasi Bencana Institut Teknologi Bandung secara mendalam terhadap sumber-sumber gempa, baik subduksi (pertemuan lempeng), maupun shallow crusal (patahan dangkal) ditemukan patahan-patahan baru yang belum terdeteksi secara spesifik dalam peta zonasi gempa pada SNI-03-1726-2002.

"Ditemukan sumber-sumber gempa di zona Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara," ungkap Kepala Pusat Mitigasi Bencana ITB I Wayan Sengara saat diskusi di Kantor BPPT Jakarta, Selasa (21/7).

I Wayan menjelaskan, sumber-sumber gempa subduksi Sumatera yang ditemukan yaitu di daerah Andaman, Aceh-Siemelue, Nias, Kepulauan Batu, Mentawai, Bengkulu, dan Sunda. Adapun untuk sumber gempa shallow crusal di wilayah Jawa dan Nusa Tenggara, yaitu patahan Lembang, patahan Cimandiri, Baribis, Opak, Doang, Sepanjang, Kangean, Flores, serta patahan-patahan lainnya di sekitar zona Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara.

"Tiga patahan daerah Jawa, yaitu Cimandiri, Lembang, Opak, Baribis diperkirakan 10 persen kemungkinan terjadi gempa dalam waktu 50 tahun ke depan dengan kekuatan gempa relatif medium," ucapnya.

Pusat Mitigasi Bencana ITB juga memberikan rekomendasi jangka pendek untuk penyempurnaan peta zonasi gempa, yaitu menyelesaikan dan menyempurnakan keseluruhan hasil analisis dari berbagai sumber gempa untuk wilayah Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara serta melakukan analisis sejenis untuk wilayah Indonesia Timur yang meliputi blok Irian dan blok Sulawesi-Kalimantan.

"Untuk jangka menengah, melakukan penelitian terhadap patahan-patahan yang dicurigai aktif," ujarnya.

Adapun jangka panjang, tambah I Wayan, memasang lebih banyak GPS monitoring pada patahan-patahan aktif sepanjang pulau di Indonesia untuk mendapatkan informasi data kecepatan pergerakan lempeng dan patahan.

"Langkah lain, mempercepat pelaksanaan pemasangan jaringan strong-motion accelerometer untuk menangkap getaran gempa kuat dari berbagai sumber gempa," ungkapnya.

Semua rekomendasi tersebut, kata dia, untuk masukan dalam perbaikan peta zonasi gempa yang masih mengacu pada peta SNI tahun 2002 agar seluruh infrastruktur yang akan dibangun dipersiapkan tahan gempa. "Kita berharap akhir tahun ini peta baru selesai dan diharapkan dilakukan penyempurnaan peta gempa secara berkala setiap 5 tahun sekali," tambah I Wayan.

Selasa, 09 Februari 2010

Bohong, Gempa Atau Tsunami akan Terjadi Besok

Jelang gerhana matahari total yang akan terjadi Rabu (22/7), kembali beredar email yang menyatakan akan terjadi gempa besar berkekuatan 6 skala Richter dan tsunami. Informasi dalam selebaran elektronik tersebut dibantah kebenarannya oleh Thomas Djamaluddin,Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

"Berita itu bohong, kemungkinan terjadinya gempa terkait dengan posisi bulan baru dan purnama kecil sekali," kata Thomas Djamaluddin ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (21/7). Ia mengatakan walaupun dari segi hipotesis, kemungkinan terjadinya gempa akibat posisi bulan baru dan purnama ada, tetapi sampai saat ini belum ada penelitian yang dapat membuktikan secara konklusif kalau ada keterkaitan di antara keduanya.

Thomas mengakui dari catatan selama ini, ada beberapa peristiwa gempa yang terjadi saat purnama, seperti tsunami di Aceh pada tahun 2004, di Padang Mentawai tahun 2005, dan di Yogyakarta pada tahun 2006. Namun menurutnya, tetap saja belum dapat diambil kesimpulan bahwa akan ada gempa atau tsunami saat gerhana matahari total Rabu (22/7) besok.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa gerhana mungkin hanya sebagai pemicu terjadinya gempa. Penyebab gempa terdapat di kulit bumi, karena gerhana matahari total menyebabkan pasang surut, maka ada kemungkinan pasang surut tersebut mempengaruhi kulit bumi. Sampai saat ini belum ada satu pun penelitian yang dapat meprediksi gempa seperti dipaparkan dalam email tersebut.

Sabtu, 06 Februari 2010

Lumpur Serang Beda dengan Lumpur Lapindo

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi memperkirakan semburan lumpur di Astana, Walikukun, Carenang, Serang, Banten, tidak akan sama seperti di Sidoarjo. Kandungan gas metan, lumpur, dan air diyakini tidak berbahaya dan sedikit jumlahnya.

Menurut Kepala Pusat Vulknologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Surono, di Bandung, Senin (22/6), tidak berbahayanya semburan lumpur di Carenang itu dibuktikan fakta keberadaan gunung api dan hasil riset tentang kandungan gas berbahaya di daerah sekitarnya. "Namun, kami tetap mengirimkan tim untuk mengamati kejadian ini lebih lanjut," kata Surono.

Berdasarkan data keberadaan gunung api, di sekitar tempat semburan lumpur, memang terdapat Gunung Karang yang memiliki tipe B. Artinya, gunung ini tidak memiliki catatan aktivitas vulkanik sejak tahun 1600.

Oleh karena itu, magma yang ada di dalam gunung kemudian mengalami pendinginan dan mengeluarkan gas. Akibat dorongan energi sangat kecil, maka gas terperangkap di dalam tanah membentuk lapisan seperti lensa. Bila lensa ini dibor dengan kekuatan tinggi, maka gas kemudian keluar bersama dengan lumpur dan air.

"Karena aktivitas gunung tidak aktif maka cadangan gas yang masih terperangkap pun tidak banyak. Kemungkinan besar semburan itu akan dalam waktu relatif tidak lama," katanya.

Tidak berbahayanya semburan gas itu diperkuat dengan analisis gas berbahaya yang dilakukan PVMBG tahun 2007 di tiga daerah sekitar Carenang. Tiga daerah itu adalah Cikeusal, Walantaka, dan Pontang yang berjarak tidak sampai 100 kilometer dari Carenang.

Surono mengatakan, Pemerintah Provinsi Banten sudah memiliki hasil analisis itu. Analisis tiga daerah itu menemukan kandungan gas, yaitu CO, CO2, H2S, SO2, dan CH4. Namun, jumlah kandungannya dianggap tidak membahayakan masyarakat sekitar.

"Seharusnya dengan analisis ini, Pemerintah Provinsi Banten bisa memetakan daerah mana yang berbahaya atau tidak. Selain itu, pemerintah bisa memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat tentang kejadian ini," kata Surono.

Selasa, 02 Februari 2010

Kobaran Api Muncul dari Dalam Tanah


Sebuah tim dari Dinas Pertambangan dan Energi tengah meneliti munculnya api dari dalam tanah di Kompleks Perumahan Damar Mas, Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Jabar.

"Kami sengaja menghubungi Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Bandung untuk melakukan penelitian di lokasi yang hasilnya akan langsung kami umumkan kepada masyarkat," kata Camat Banjaran, H Imam Irianto, di loaksi kejadian, Jumat (19/6). Menurut Imam, dari hasil penelitian awal, api yang ditimbulkan dari semburan gas itu tidak membahayakan keselamatan dan kesehatan masyarakat.

Kepala Sub Dinas Pertambangan Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Bandung Ir Kawaludin yang ikut meneliti di lokasi kejadian menegaskan, udara yang keluar tersebut merupakan gas metan (CH4). Gas tersebut, lanjut Kawaludin, merupakan hasil fermentasi atau pelapukan sampah organik yang prosesnya tertimbun tanah lempung, yang berada di lokasi perumahan itu.

"Saat tanah lempung tertembus mata bor, maka gas hasil pelapukan tersebut langsung ke luar," kata Kawaludin. Sifat dan ciri-ciri gas metan tidak berbau dan mudah terbakar, dan hembusan gas metan yang ke luar di sana hanya akan berlangsung beberapa hari saja, paling lama seminggu, katanya. Radius sebaran tumpukan sampah organik berada di kedalaman delapan meter, dan dapat dibuktikan dengan cara mengebor di sekitar lokasi kejadian.

Ia memaparkan, kejadian serupa pernah terjadi pula sebelumnya di Kabupaten Bandung, yakni di Kecamatan Rancaekek dan di Kecamatan Pameungpeuk, dengan modus yang sama yakni bermula dari pengeboran tanah untuk sumur. Dikatakan, sampah organik yang tertimbun bisa saja akibat pengurugan atau sampah organik purba karena pada zaman dulu Bandung merupakan danau raksasa yang kemudian airnya menyusut hingga seperti sekarang.

Warga kompleks Perumahan Damar Mas dan sekitarnya, hingga menjelang siang, masih terus berdatangan, ingin melihat langsung peristiwa yang jarang mereka saksikan itu. Gas keluar dari titik pengeboran sekitar pukul 13.00 WIB, Kamis, sesaat setelah mata bor, dalam pengeboran untuk membuat sumur jet pump, berhasil menembus kedalaman 26 meter.

Pengeboran di lokasi tersebut, menurut para pekerja, terbilang mengalami hambatan karena waktunya relatif lama untuk pekerjaan seperti itu. Pengerjaan pengeboran terhambat oleh adanya batu yang cukup keras untuk ditembus oleh mata bor, tak heran bila dalam waktu tiga hari, sejak Selasa (16/6) lalu, air baru bisa keluar.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan, polisi setempat memasang garis pengaman di sekitar lokasi.

Sabtu, 09 Januari 2010

Gunung Bawah Laut di Selatan Mentawai Belum Membahayakan

Sebuah gunung api ditemukan berada di bawah laut di selatan Kepulauan Mentawai. Sementara ini, gunung api yang terletak di barat Pulau Sumatera itu belum membahayakan. Para peneliti masih meriset tingkat keaktifan gunung api ini.

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Komda Sumatera Barat, Ade Edward, mengatakan, penelitian pakar geologi Indonesia, Amerika Serikat, dan Perancis itu menegaskan sejumlah isu yang selama ini mencuat mengenai keberadaan gunung api di bawah laut.

"Isu tentang gunung api di bawah laut sudah ada sejak lama. Hasil penelitian para ahli ini memberikan jawaban atas isu tersebut," ujar Ade di Padang, Sabtu (30/5).

Bahkan menurutnya, kemungkinan ada dua buah gunung laut. Keduanya masih berbentuk kerucut utuh sehingga dipastikan bahwa kedua gunung api itu belum pernah meletus. Hanya saja, hasil penelitian saat ini baru sebatas memastikan keberadaan gunung tersebut. Sementara, status gunung itu aktif atau tidak masih belum bisa dipastikan.

Gunung api yang masih aktif ditandai dengan material yang dikeluarkan dari gunung, seperti material padat, cair, atau lava. Bila tidak ada material yang dikeluarkan oleh gunung api, maka gunung itu merupakan gunung api yang mati. Pengeluaran material inilah yang masih diteliti oleh para ahli.

Hasil penelitian ini, menurut Ade, masih bersifat informasi. Karena belum bisa dipastikan keaktifan gunung api tersebut, maka para peneliti belum memberikan rekomendasi langkah tertentu ke badan penanggulangan bencana. Pemda yang wilayahnya berada di sekitar gunung api itu juga belum mendapatkan instruksi untuk mengambil langkah tertentu untuk menyikapi keberadaan gunung api di bawah laut.

Selatan Mentawai

Kedua gunung api itu berada di selatan Pulau Pagai Selatan. Pulau ini merupakan pulau paling selatan dari gugusan empat pulau besar di Mentawai.

Dari sisi ancaman, energi yang tersimpan pada gunung api ini tidak sebesar energi yang bisa membangkitkan gempa dan tsunami. Namun, sebagai bagian dari sistem tektonik lempeng, seluruh aspek yang ada di bawah laut ini perlu dipelajari.

Data tentang gunung api bawah laut ini perlu diperoleh karena gunung berada di daerah rawan tsunami, yakni di zona penghujaman lempeng Eurasia dan lempeng India-Australia. Selama ini masih berkembang prediksi ahli bahwa adanya energi besar yang tersimpan dari pertumbukan lempeng itu.

Sejauh ini, riset yang dilakukan para ahli belum final. Setidaknya, hasil riset memastikan kecurigaan sejumlah orang atas keberadaan gunung api di bawah laut.

Rabu, 06 Januari 2010

Temuan Gunung Raksasa Bawah Laut Pecahkan Rekor

Gunung raksasa yang ditemukan di perairan barat Sumatera mungkin memecahkan rekor sebagai gunung berapi terbesar di Indonesia. Demikian menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.

"Gunung Kerinci yang tingginya sekitar 3.800 meter dan Gunung Semeru sekitar 3.600 meter kalah dengan gunung yang baru ditemukan di perairan Bengkulu tersebut. Kalau gunung ini memang benar gunung api, maka gunung ini merupakan gunung api terbesar di Indonesia," kata Kepala PVMBG Badan Geologi, Bandung, Surono di Jakarta, Jumat (29/5).

Lokasi gunung tersebut berada di Palung Sunda di barat daya Sumatera, terletak kira-kira 330 km dari Bengkulu. Tingginya diperkirakan 4.600 meter dengan puncaknya ada di kedalaman 1.280 meter dari permukaan laut. Diameternya diperkirakan sekitar 50 km.

Ia memprediksi, gunung api yang ditemukan itu sebelumnya pernah beberapa kali meletus sehingga material-material letusannya membuat gunung itu semakin besar seperti sekarang ini. Menurut Surono, para peneliti harus meneliti lebih lanjut untuk mengetahui kepastian gunung merapi itu, seperti tingkat keaktifan magmanya, memiliki lubang pada bagian atasnya sebagai tempat untuk keluar letusan dan lainnya.

Bila gunung itu merupakan gunung berapi, lanjut Surono, akan sangat berbahaya bila meletus. Gunung api yang berada di tengah laut itu bisa menimbulkan gelombang besar di permukaan laut, bahkan tsunami. Oleh sebab itu, perlu ada perhatian serius dari pemerintah untuk mengantisipasi hal itu.

"Para peneliti juga harus melakukan pengawasan dan pemantauan mengenai kondisi gunung tersebut serta membuat peta rawan bencana di sekitar gunung itu sehingga dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," ujarnya.

Surono memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada para peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral CGG Veritas dan Institut de Physique Globe Paris yang menemukan gunung api raksasa tersebut.

Senin, 04 Januari 2010

Indonesia Punya 5 Gunung Api Bawah Laut


Gunung api di bawah laut hanya ada lima di Indonesia. Sementara ini aktivitas vulkaniknya tidak berbahaya.

Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono, hanya ada lima gunung api bawah laut di Indonesia. Di perairan Sulawesi Utara ada Gunung Sub Marine yang meletus tahun 1922 dan Banuawalu (1919). Selain itu, di perairan Banda ada Niuwewerker (1927) dan Emperor of China. Gunung api di bawah laut lainnya adalah Hobal (1999) di perairan Nusa Tenggara Timur.

"Aktivitas mereka sejauh ini tidak berbahaya. Bila sedang aktif biasanya hanya menimbulkan buih air berasap," katanya di Bandung, Sabtu (30/5).

Menanggapi klaim penemuan gunung api berukuran besar di bawah laut dekat perairan Mentawai, Surono mengatakan, kemungkinan itu bisa saja terjadi. Namun, ia menegaskan, gunung itu belum menjadi bagian dari 129 gunung api Indonesia.

Sabtu, 02 Januari 2010


Kemunculan gunung api termasuk gunung yang baru ditemukan di perairan barat Sumatera tidak mungkin secara tiba-tiba. Demikian dijelaskan Direktur Pusat Penelitian Geologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr Iskandar Zulkarnain, mengomentari penemuan gunung raksasa tersebut.

"Ada proses panjang yang membentuk gunung api muncul, tidak mungkin tiba-tiba," katanya, Jumat (29/5). Ia mencontohkan pembentukan kembali gunung api Krakatau di Selat Sunda yang membutuhkan waktu lebih dari 50 tahun setelah sempat meletus pada tahun 1883.

Iskandar mengatakan, pihaknya belum mendapat laporan resmi terkait temuan gabungan para pakar geologi Indonesia dan sejumlah negara asing tersebut. Namun, penemuan tersebut mengundang sejumlah pertanyaan.

Menurut dia, tanda-tanda keberadaan gunung api di perairan barat Sumatera seharusnya terdeteksi oleh satelit sebelumnya. "Seharusnya ada deteksi ya kan, tapi sejauh ini saya belum pernah mendapat informasi tentang keberadaan gunung api di perairan barat Sumatera khususnya di laut Bengkulu ini," katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Geologi Badan Klimatologi dan Geofisika Bengkulu Dadang Permana mengatakan, di titik lokasi keberadaan gunung api tersebut tidak pernah terdeteksi adanya aktivitas vulkanik. Pihaknya belum dapat memastikan temuan tersebut.

"Bagi kami, ini masih sebatas hipotesa dan BMKG perlu melakukan penelitian lagi karena tidak pernah terdeteksi getaran vulkanik di titik 330 km arah barat Kota Bengkulu," katanya.

Keberadaan gunung api raksasa ini dilaporkan sebagai hasil penelitian gabungan sejumlah lembaga, yaitu Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral CGG Veritas, serta Institut de Physique Globe) Paris. Gunung api tersebut diperkirakan berdiameter 50 km dan tinggi 4.600 meter dengan lokasi 330 km arah barat Kota Bengkulu.